Penulis artikel ini bernama Ira Firdatul Khasanah, ia adalah salah satu mahasiswi Universitas Negeri Jember, Prodi Usaha Perjalanan Wisata.
Perjalanan dimulai dari Kota Jember, tempat dimana saya meniti ilmu di kampus tercinta, Universitas Jember. Desa Adat Kemiren menjadi tujuan saya kali ini, sebuah desa yang memiliki kebudayaan yang masih kental dan tetap terjaga hingga saat ini. Inilah mengapa saya memutuskan untuk harus pergi menilik Desa tersebut.Â
Ketika pertama kali mendengar nama Desa Adat Kemiren di Banyuwangi, saya berpikir desa tersebut sama dengan desa-desa lainnya di Jawa Timur yang kesehariannya menggunakan bahasa jawa dalam berkomunikasi.
Namun, begitu kaki ini menginjak desa tersebut, kenyataanya berbeda. Ternyata, penduduk tidak menggunakan Bahasa Jawa dalam berkomunikasi sehari-hari, melainkan menggunakan Bahasa Osing untuk berkomunikasi. Saya yang tentu saja tidak bisa Bahasa Osing, memilih berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia dengan penduduk lokal disana.
Lalu darimana Suku Osing Masuk di Desa Adat Kemiren?
Sesampainya disana, memang saya merasakan ada perbedaan kuat dengan daerah asal saya yaitu Pasuruan, meski sama sama Jawa Timur. Ternyata setelah saya mencari informasi di beberapa jurnal dan artikel, masyarakat Desa Adat Kemiren merupakan keturunan dari Kerajaan Blambangan yang biasa disebut Suku Osing. Kerajaan Blambangan merupakan kerajaan Hindu terakhir di Jawa. Nama “Osing” berasal dari kata “Using” yang berarti “tidak” dalam bahasa mereka, mencerminkan perbedaan identitas mereka dari Suku Jawa. Suku Osing juga memiliki keunikan tersendiri dalam aspek budaya, bahasa hingga arsitektur rumah yang khas, yang berbeda dari masyarakat Jawa pada umumnya.
Menurut artikel yang diterbitkan oleh Badan Registrasi Wilayah Adat tahun 2015, Suku Osing dulunya merupakan masyarakat kerajaan Majapahit yang mengungsi di banyuwangi akibat perang saudara dengan kerajaan Demak, kemudian bersepakat mendirikan kerajaan Blambangan yang hanya bertahan hingga 200 tahun sebelum jatuh ke Kerajaan Mataram Islam.
Menurut jurnal yang diterbitkan oleh Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol. 8 No. 1 tahun 2022, Pemberontakan masyarakat Blambangan yang kemudian dikenal sebagai Suku Osing berkaitan erat dengan perlawanan terhadap Islamisasi yang dilakukan oleh Kesultanan Mataram pada abad ke-18. Suku Osing adalah keturunan dari masyarakat Blambangan yang menolak Islamisasi Mataram. Kata “Osing” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “tidak” atau “menolak,” yang mencerminkan sikap masyarakat Blambangan terhadap dominasi Mataram dan upaya Islamisasi. Oleh karena itu, mereka disebut sebagai Suku Osing, yang secara budaya dan tradisi masih mempertahankan banyak unsur kepercayaan Hindu-Buddha, meskipun dalam perkembangannya juga banyak yang memeluk Islam atau agama lain. Karena perlawanan tersebut, masyarakat Osing mengembangkan identitas budaya yang berbeda dari masyarakat Jawa pada umumnya. Bahasa, adat, dan tradisi mereka masih memiliki banyak pengaruh Hindu-Buddha dan berbeda dari budaya Jawa Islam di sekitarnya. Hingga kini, masyarakat Osing tetap mempertahankan identitas budaya mereka, terutama di wilayah Banyuwangi.
Saat runtuhnya kerajaan Blambangan, masyarakat Osing tetap tinggal di daerah tersebut dan mempertahankan budaya serta tradisi leluhur mereka. Desa Kemiren kemudian berkembang menjadi pusat budaya Osing karena masyarakatnya masih sangat kuat memegang tradisi nenek moyangnya, berbeda dengan daerah lain di Banyuwangi yang sudah terpengaruh oleh budaya Jawa dan Madura.
Wilayah kekuasan Kerajaan Blambangan meliputi Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi. daerah tersebut dulunya merupakan bagian dari suku Osing dulunya, tetapi seiring masuknya budaya Jawa dan Madura di wilayah tersebut, mengakibatkan budaya Osing semakin tergerus dan akhirnya ditinggalkan. Sampai saat ini suku Osing hanya dapat ditemui di masyarakat Banyuwangi khususnya di Desa Adat Kemiren yang hingga saat ini masih dilestarikan.
Pada konteks Bahasa, meski berbeda dengan bahasa Jawa, Bahasa Osing merupakan turunan dari bahasa Jawa Kuno yang sedikit terpengaruh dari bahasa Bali, sangat berbeda dengan dengan bahasa Jawa yang digunakan di daerah lain di Jawa Timur, seperti Surabaya dan Malang. Selain itu, budaya Osing juga masih mempertahankan budaya khas yang tidak ditemukan di daerah Jawa lainnya, seperti tradisi seblang, Kebo-keboan, Gandrung dan Mepe Kasur. Hal tersebut yang menjadi pembeda bahwa Suku Osing memiliki identitas yang kuat dan unik dari suku-suku lain yang ada di Jawa.
Apa Itu Tradisi Mepe Kasur?

Tradisi Mepe Kasur Desa Adat Kemiren setiap 1 Dzulhijjah yang memiliki tujuan untuk ritual bersih desa. Ritual ini dilakukan mulai dari pagi hari sampai sore hari, kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan barongan mengelilingi desa dan dilanjutkan berziarah ke makam buyut Cili, malamnya dilanjutkan dengan ritual Tumpeng Sewu. Saat menjemur kasur, masyarakat membaca doa dan memercikan air bunga ke kasur yang memiliki makna atau harapan agar terhindar dari penyakit dan marabahaya. Umumnya, Kasur yang dimiliki masyarakat Kemiren terdiri dari dua unsur warna yaitu merah dan hitam. Warna merah melambangkan keabadian rumah tangga dan warna hitam melambangkan tolak bala. Hal ini yang membuat saya terpukau dan sangat ingin merasakan menjadi masyarakat Kemiren walaupun dalam sehari.
Desa Adat Kemiren sangat menyimpan banyak sejarah, budaya dan adat-istiadat di dalamnya. Rasanya, tak cukup sehari untuk benar-benar merasakan dan memahami bagaimana menjadi masyarakat lokal Desa Adat Kemiren ini. Sejarah, budaya dan adat-istiadat lah yang menjadi daya tarik untuk saya ingin terus kembali ke Desa ini.

