Kedai Kopi Eksis Sebelum Indonesia Merdeka

Penulis : Raden Mas Aan*

(Penulis adalah pegiat wisata berkelanjutan dan penikmat kopi arabika tinggal di Malang)

Sore itu hujan membasahi kota Malang. Beberapa hari ini memang hujan kerap hadir bakda dhuhur hingga malam itupun mendung sudah menyapa mulai pagi. Seiring air membasahi jalanan Kota Malang, hawa dingin pun perlahan menyelimuti. Namun, dinginnya masih belum seperti Malang belasan tahun lalu yang terkenal sebagai kota dingin. Bersamaan dengan itu, terbersit keinginan untuk menghangatkan diri sambil menikmati secangkir kopi. Baiklah, tanpa banyak pertimbangan kunaiki Suzuki Jimny keluaran tahun 1984 menuju ke sebuah kedai kopi dibelakang Madrasah Aliyah Negeri 2 kota Malang, tepatnya di Jl. Pekalongan Nomor 15.

Kedai Rupaduta Namanya, Rupaduta sendiri merupakan kependekan dari Rumah Pangan Duta Ekowisata sebuah ruang aktualisasi diri yang diinisiasi oleh kawan – kawan pegiat pariwisata berkelanjutan yang tergabung dalam East Java Ecotourism Forum (EJEF) sekitar 3 tahun lalu saat pandemi melanda. Pada saat itu kawan – kawan EJEF yang sebagian besar anggotanya adalah praktisi di dunia pariwisata sangat terdampak oleh pandemi. Kegabutan yang hakiki melanda mereka akhirnya tercetuslah ide untuk saling menguatkan dengan membantu antar teman untuk berjualan berbagai barang hasil buatan sendiri maupun pengembangan dari produk yang sudah ada. Kedai Rupaduta dilahirkan sebagai salah satu saluran distribusi produk petani kopi dan umkm. Namun seiring dengan perkembangan waktu, kedai ini menjadi tempat nongkrong, berinteraksi dan berdiskusi secara langsung.

Ditengah tumbuh dan tumbangnya berbagai kedai kopi, café dan warung kopi dikota Malang, Kedai Rupaduta mampu bertahan menghadapi tantangan yang ada. Berbagai program kolaborasi dan ruang – ruang dialektika dibangun dan dikembangkan untuk merawat idealisme sambil memajukan kedai sebagai salah satu unit usaha para pemiliknya. Menyoal tumbuh kembang sebuah kedai kopi tak lengkap kiranya jika kita tidak menelisik sedikit asal muasal kedai kopi pertama kali hadir di dunia ini. Berdasarkan beberapa catatan yang tersebar diberbagai laman media online menyebutkan bahwa kedai kopi pertama kali muncul beberapa abad lalu pada era tahun 1475. Kedai Kiva Han hadir di konstantinopel (sekarang Istanbul – Turki) sebagai jawaban atas kopi yang menjadi kebutuhan utama orang turki pada masa itu. Kiva Han tidak hanya sekadar tempat untuk menikmati secangkir kopi, tetapi juga menjadi pusat sosial yang memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kiva Han menjadi tempat berkumpulnya orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat, membawa bersama cerita – cerita, pandangan politik, diskusi agama, dan peristiwa terkini. Suara tawa, perdebatan seru, dan aroma kopi menyatukan orang-orang dalam lingkungan yang ramah dan akrab. Kiva Han dengan cepat menjadi titik pertemuan utama bagi mereka yang ingin berbagi pengalaman dan wawasan mereka.

Kopi yang disajikan di Kiva Han terkenal karena kekentalannya, warna hitam yang pekat, dan tidak menggunakan filter. Kopi Turki, demikian mereka menyebutnya, bukan hanya sekadar minuman, melainkan suatu bentuk seni dan keterampilan. Para barista di Kiva Han menjadikan proses penyeduhan kopi sebagai sesuatu yang istimewa, dan kopi dianggap sebagai barang premium.

Pentingnya kopi dalam budaya Turki tercermin dalam tradisi dan kebiasaan sehari-hari. Menyajikan kopi dengan benar dianggap sebagai tanda keramahan dan kepedulian terhadap tamu. Bahkan, kopi menjadi begitu penting sehingga dalam budaya Turki pada waktu itu, seorang wanita dapat menceraikan suaminya jika dia tidak dapat menyediakan kopi yang memadai.

Kiva Han bukan hanya sekadar tempat untuk memenuhi dahaga kopi, tetapi juga menjadi saksi perkembangan budaya dan peradaban di sekitarnya. Warung kopi ini melampaui batas-batas tempat kuliner biasa dan menjadi inti dari kehidupan sosial masyarakat Konstantinopel pada masa itu. Dengan demikian, Kiva Han tidak hanya menjadi warung kopi pertama di dunia, tetapi juga menjadi cikal bakal bagi warung kopi modern yang tetap menjadi tempat berkumpul.

Kedai kopi di Turki kemudian berubah saat perang melanda. Pada tahun 1529, Austria menyerbu Turki. Franz Georg Kolschitzky – seorang berkewarganegaraan Wina mengklaim kopi tentara Turki sebagai rampasan perang. Kolschitzky yang pernah tinggal di Turki kemudian membuka kedai kopi. Kolschitzky memperkenalkan ide minum kopi dengan menggunakan penyaring. Ia kemudian mencampurkan kopi dengan susu dan gula. Minuman ala Kolschitzky diserbu warga Wina, karena rasanya enak. Tak berapa lama, munculah kedai kopi di Wina. Beberapa warga London yang berdagang ke Wina tertarik dengan kedai kopi. Ditahun 1652, kedai kopi mulai bermunculan di London. Kedai Kopi pertama di London adalah The Turk’s Head. Kedai ini uniknya karena jadi kedai kopi pertama di London yang dibangun dua budak milik seorang pedagang Inggris. Sampai sekarang kedai kopi ini masih ada di London. Semenjak itulah Eropa menyadari betapa nikmatnya kopi. Kopi bukan sekedar minuman. Menikmati kopi di kedai telah menjadi gaya hidup di Eropa. Gaya hidup yang disukai kalangan muda sampai yang berusia.

Di Indonesia sendiri sebelum maraknya berbagai kedai kopi lengkap dengan mesin espresso canggih dan wifi, beberapa abad lalu sudah bermunculan kedai kopi yang menyajikan secangkir kopi dari ceret kuno. Tepatnya ketika India mengirimkan biji kopi Yemen atau biasa dikenal dengan Arabica kepada Pemerintahan Belanda di Batavia pada tahun 1696. Disadur dari laman Good News From Indonesia, tercatat ada beberapa kedai kopi yang terbilang tua yang ada dan pernah ada di Indonesia berikut diantaranya :

Warung Tinggi Tek Sun Ho – Tahun 1878

kedai kopi pertama di Indonesia. Foto oleh : coffeeland.co.id

Warung Tinggi ini terletak di Hayam Wuruk, Jakarta. Sebelumnya, kedai kopi ini bernama Tek Sun Ho yang didirikan oleh Liaw Tek Soen pada tahun 1878. Kedai yang berusia 138 tahun ini sudah bertahan melintasi lima generasi keturunannya. Menu kopi yang terkenal disana adalah kopi jantan dan kopi betina.

Kopi jantan memiliki rasa yang sangat keras serta berkhasiat meningkatkan vitalitas, sedangkan kopi betina banyak sekali disukai oleh anak muda. Saat ini, warung tinggi sudah menembus pasar supermarket, hotel, dan perkantoran. Mereka juga mengekspor kopi ke Jepang dan Amerika Serikat. Seiring berkembangnya zaman, namanya pun beruba menjadi Koffie Warung Tinggi yang berlokasi di Jl. Sekolah Tangki No. 26, Hayam Wuruk, Jakarta Barat.

Warung Kopi Ake – Tahun 1921

Warung Kopi Ake merupakan yang tertua di Belitung. Warung kopi ini berdiri pada tahun 1921, yang terletak di Jl. KV Senang 57, Tanjung Pandan, Belitung. Warung Ake ini tetap mempertahankan resep turun temurunnya dan yang paling unik adalah peralatan jaman dulu yang digunakan oleh kakek buyutnya yakni gentong air, alat penyulingan air, katel dan dua teko air. Saat ini warung Kopi Ake sudah dikelola oleh generasi ke-4. Menu andalannya yakni kopi susu dan teh susu.

Kedai Massa Kok Tong – Tahun 1925

Kedai ini dirinitis oleh perantau asal negeri Tiongkok, Lim Tee Kee. Pada saat itu beliau berusia 17 tahun dan merintis kedai tersebut pada 29 Juni 1925. Pertama kali didirikan di Jl. Cipto No. 109/115, Pematangsiantar, Sumatra Utara dengan nama Heng Sem. Kopi yang memiliki citarasa klasik ini terkenal hingga sekarang dan telah membuka sebuah cabang baru, salah satunya di kota Siantar dan memiliki pabrik pengolahan kopi sendiri.

Kedai Es Kopi Tak Kie – Tahun 1927

Kedai ini berada di kawasan Glodok, Jl. Pintu Besar Selatan III No. 4-6, Jakarta Barat. Buka pertama kali pada tahun 1927, mulai dirintis oleh perantau dari negara Tiongkok Liong Kwie Thong. Kedai Es Kopi ini memiliki kopi andalannya yang merupakan perpaduan kopi dari jenis kopi Robusta maupun Arabika dari Lampung.

Warung Kopi Purnama – Tahun 1930

Kedai Kopi Warung Purnomo berada di ruas Jalan Alkateri, Bandung. Beridi sejak 1930 oleh Yong A Thong, yang merupakan perantauan dari Medan. Awalnya bernama Chang Chong Se yang artinya “Silakan Mencoba”. Namun berganti nama menjadi Warung Kopi Purnama karena kebijakan oleh pemerintah Indonesia yang mewajibkan menggunakan nama Indonesia pada tahun 1966. Meski sedang maraknya coffe shop di Bandung, namun kopi ini tetap diburu oleh para penggemarnya. Hingga saat ini kedai tersebut tetap mempertahankan resep yang sama sejak dulu yakni kopi susu dan roti bakar selai srikaya. Isimewanya mereka menggunakan biji kopi khusus dari Medan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *