Pariwisata Indonesia: Antara Potensi, Konsep Pembangunandan Ancaman Keberlanjutan

Sebuah perpektif terhadap buku Membangun Desa Ekowisata

Oleh: Achmad Wildan Achyar

Menurut “Seri Ensiklopedia Populer Pulau-pulau Kecil Nusantara” Indonesia memiliki 17.504 pulau. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan 1.304 suku bangsa mendiami belasan ribu pulau tersebut. Data Bank Dunia pada tahun 1994, Indonesia memiliki 10 persen jenis tanaman dan bunga yang ada di dunia, 12 persen binatang menyusui, 17 persen jenis burung, 25 persen jenis ikan dan 10 persen sisa area hutan tropis. Hutan tropis Indonesia merupakan hutan terluas di Asia – Pacific. Hutan seluas 1.148.400 kilometer persegi tersebut memiliki spesies tanaman palm sebanyak 447 spesies dan 225 diantaranya tidak terdapat di belahan dunia yang lain. Belum lagi jenis tanaman – tanaman endemic lain yang terdapat di pulau – pulau besar Indonesia yang ada. Pada wilayah pesisir dan laut, Panjang pesisir Pantai Indonesia menyumbang 14 persen Panjang pesisir Pantai dunia, yaitu sepanjang 81.000 kilometer.

Bentang alam yang ada dengan berbagai potensi sumberdaya yang dimiliki tentu saja mempengaruhi kehidupan Masyarakat. Adat istiadat dan kebiasaan menciptakan budaya tertentu disesuaikan dengan dimana mereka tinggal. Sebagai contoh, pembuatan rumah sebagai sebuah hunian sangat dipengaruhi oleh keadaan geografis alamnya. Mereka yang tinggal di pulau Jawa dan Bali membangun rumah tradisionalnya pada masa lampau berbeda dengan Masyarakat bugis yang tinggal di pesisir. Masyarakat suku Jawa dan Bali lebih memilih membangun rumah sebagai hunian mereka langsung berada diatas tanah, sementara masyarakat suku bugis yang tinggal di pesisir lebih memilih membuat rumah panggung diatas air sebagai Upaya mitigasi dan adaptasi siklus ombak pasang dan surut.

Beragam potensi tersebut disadari pemerintah sebagai bekal dalam perencanaan pembangunan kepariwisataan kedepan. Peraturan Pemerintah Indonesia Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2011 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (Ripparnas) Tahun 2010-2025 merupakan salah satu bentuk upaya serius pemerintah terkait Pembangunan kepariwisataan. Menurut PP No. 50 tahun 2011 tersebut, kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan pengusaha. Sedangkan daerah tujuan pariwisata yang selanjutnya disebut destinasi pariwisata adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang di dalamnya terdapat Daya Tarik Wisata, Fasilitas Umum, Fasilitas Pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya Kepariwisataan. Dalam peraturan tersebut pemerintah menekankan pengembangan sebuah destinasi wisata harus melibatkan semua pihak yang terdiri dari pemerintah, pelaku usaha, masyarakat sekitar hingga wisatawan itu sendiri.

Pariwisata diproyeksikan sebagai salah satu penghasil devisa negara. Namun, berdasarkan prinsipnya pariwisata memiliki spektrum fundamental Pembangunan lebih luas bagi suatu negara. Dalam Sapta Nirwandara dijelaskan tujuan pembangunan pariwisata pada dasarnya adalah:

  1. Persatuan dan Kesatuan Bangsa
    Lewat kegiatan pariwisata, wisatawan secara tidak langsung akan bersinggungan dengan sistem dan filosofi kehidupan masyarakat yang dikunjungi sehingga perasaan bangga, persatuan dan kesatuan akan muncul beriringan dengan perjalanan pariwisata yang dilakukan.
  2. Pengahapusan Kemiskinan (Poverty Alleviation)
    Pembangunan pariwisata dan kunjungan wisatawan harusnya memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat sekitar destinasi. Dengan adanya pariwisata, kesempatan bekerja bagi masyarakat tentu saja bertambah. Hal tersebut menjadikan pariwisata sebagai salah satu cara meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
  3. Pembangunan Berkesinambungan (Sustainable Development)
    Kegiatan Parwisata adalah kegiatan yang menawarkan keindahan alam, kekayaan budaya dan keramah tamahan pelayanan, sedikit sekali sumberdaya yang habis untuk keperluan pendukung kegiatan ini. Peningkatan kondisi alam dan masyarakat pada destinasilah yang lebih penting untuk pengembangan kepariwisataan.
  4. Pelestarian Budaya (Culture Preservation)
    Dalam destinasi wisata budaya masyarakat menyadari bahwa nilai jual utamanya adalah budaya itu sendiri, jika kebudayaan tersebut mati maka pariwisatanya juga akan mati. Menurut UNESCO dan UNWTO dalam resolusi bersama pada tahun 2002 menyatakan “kegiatan pariwisata merupakan alat utama pelestarian kebudayaan”. Sebagai contoh, masyarakat Bali menyadari bahwa Tari Kecak menjadi salah satu hal yang diminati wisatawan, mereka mengelola sanggar-sanggar tari sebagai upaya melestarikan budaya agar dapat dinikmati sampai generasi mendatang.
  5. Pemenuhan Kebutuhan Hidup dan Hak Asasi Manusia
    Tidak dapat dipungkiri bahwa pariwisata menjadi salah satu kebutuhan dasar kehidupan masyarakat modern masa kini. Beberapa kelompok masyarakat mengaitkan perjalanan wisata dengan hak asasi manusia khususnya melaui pemberian libur lebih Panjang pada skema paid holidays.
  6. Peningkatan Ekonomi dan Industri
    Adanya pariwisata memberikan kesempatan tumbuh bagi sektor perekonomian, penggunanan bahan dan produk local dalam proses pelayanan memberikan industry lokal untuk berperan dalam penyediaan barang dan jasa. Dengan catatan kemampuan usaha setempat dapat memberikan pelayanan berkelas dunia serta berkualitas.
  7. Perkembangan Teknologi
    Kebutuhan teknologi yang terus meningkat mendorong destinasi pariwisata untuk beradaptasi dalam penerapan teknologi terkini. Teknologi menjadi salah satu aspek pendukung pelayanan dalam pariwisata.

Ketujuh hal diatas menjadikan pembangunan kepariwisataan memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintah di berbagai daerah secara lebih luas dan fundamental. Kepariwisataan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pembangunan suatu daerah dan terintegrasi dalam kerangka kesejahteraan masyarakat setempat (Pembangunan Sektor Pariwisata di Era Otonomi Daerah, 2016).

Dengan beragamnya potensi yang ada, pariwisata menjadi salah satu sektor ekonomi penting di Indonesia. Tahun 2009, pariwisata menempati urutan ketiga penerimaan devisa setelah komoditi minyak dan gas bumi serta kelapa sawit. Pada tahun 2014 wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia mencapai sebesar 9,4 juta lebih atau tumbuh sebesar 7,05% dibanding tahun sebelumnya (Kemenpar). World Economic Forum dalam laporan “Travel & Tourism Competitiveness Report” mencatat bahwa tahun 2013, Indonesia menempati urutan 70 dan melompat menjadi 50 di tahun 2015 dalam perkembangan sektor perjalanan dan wisata. Kendati begitu, laporan itu juga menyatakan bahwa Indonesia belum mampu menekankan keberlanjutan lingkungan hidup yang akibatnya (banyak penggundulan hutan, kondisi spesies langka yang rawan serta pengolahan limbah tidak efektif).

Meski perkembangan pariwisata di Indonesia dapat dikatakan baik, namun masih jauh jika dibanding dengan Malasyia, Singapura bahkan Thailand dalam pemeringkatan Travel dan Tourism Competitiveness Report 2015 yang masing masing pada peringkat 25, 11 dan 35. Menurut Chairman Commisioner Malaysia – Indonesia Tourism Exchange (Mitex), Hero E. A. Putra “kurangnya wisatawan asing ke Indonesia disebabkan minimnya pelayanan, kenyamanan dan jaminan keamanan di Tanah air”. Kurangnya infrastruktur yang layak menyebabkan kurang lancarnya perjalanan wisata. Kita ambil contoh di Jakarta, fasilitas disana sangat luar biasa akan tetapi di daerah timur Indonesia banyak daerah yang belum memiliki bandara, Pelabuhan, jalan dan hotel sebagai fasilitas pendukung pariwisata. Selain infrastruktur, pendidikan yang kurang merata juga menambah kekuatiran perkembangan pariwisata di Indonesia, masih banyak penduduk tidak bisa berbahasa Inggris bahkan tidak pernah tau Bahasa Inggris yang tentu saja menghambat komunikasi antara wisatawan mancanegara dan masyarakat.

Wisatawan mancanegara cenderung memilih Malaysia dan Singapura karena mudahnya akses serta pelayanan yang lebih baik dari kita, ini menjadi pekerjaan rumah semua pihak untuk menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata menarik bagi wisatawan dalam maupun luar negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *