Apakah Seorang Antroposentrism Bisa Melahirkan Ekowisata?

Penulis :
Agni Istighfar Paribrata
Pamong EJEF, Pegiat Wisata Berkelanjutan dan Magister Ilmu Hukum tinggal di Bojonegoro.

Setelah mempelajari pengertian tentang Antroposentrisme pada kesempatan sebelumnya, saya membayangkan apakah seorang Antroposentrism bisa melahirkan ide tentang Ekowisata?

Seorang penganut Antroposentrism akan berdiri sebagai seseorang dengan Frontier Mentality (Mental Pembuka Lahan Baru) menurut Sony Keraf, mental ini cara berpikirnya akan dibentuk dari persepsi bahwa alam itu perlu dikuasai, karena manusia itu superior kata Rene Descartes, manusia tidak pernah berdiri sejajar dengan alam, manusia dengan jiwanya yang mampu
berpikir berdiri eksklusif dibanding hewan dan tumbuhan di alam semesta.

Sebagai makhluk yang eksklusif dan superior, kebutuhan manusia bagi seorang Antroposentrism harus menjadi prioritas untuk dipenuhi. Pemenuhan diambil dari alam dan bumi sebagai sumber daya, tak perlu pula berpikir tentang limitasi kemampuan alam memenuhinya. Alam dan bumi menurut Sony Keraf di mata seorang Antroposentrism tak terbatas kemampuannya. Penuh ego kelihatannya tapi mau tidak mau itu yang bisa saya bayangkan dari seorang Antroposentrism menurut literatur.

Satu hal fundamental yang saya pahami dari Ekowisata dan Pariwisata Berkelanjutan (Sustainable Tourism), pada kedua konsepsi dimaksud pariwisata muncul sebagai nilai tambah dari hal baik yang dilakukan secara konsisten. Hal baik seperti konservasi alam, perlindungan satwa terancam kepunahan hingga proteksi terhadap kearifan lokal yang terjaga menjadi
secara natural menarik untuk dikunjungi.

Atas nilai tersebut pariwisata bukan hal yang dituju, konstruksi gerakan ini harusnya tetap konsisten pada tujuan hal baik yang dimaksud sebagai capaian. Sebagai nilai tambah, pariwisata adalah dampak baik / dampak positif yang muncul dan dikelola bukan malah dijadikan sebagai tujuan. Seandainya dikemudian hari dampak baik yang muncul bukan ekowisata pun, tidaklah
harus menjadi alasan gerakan baik ini berhenti diupayakan.

Landasan paling kuat dari gerakan baik adalah keyakinan bahwa hal tersebut adalah kebenaran, keteguhan atas keyakinan atas kebenaranlah yang seharusnya diperjuangkan, jika tidak diupayakan akan muncul perasaan bersalah yang mendalam selayaknya seorang manusia yang tidak menjalankan etika dengan baik, sikap diam yang kemudian melahirkan perasaan kehilangan harga diri sebagai seorang insan, hal inilah yang bisa digunakan untuk mendefinisikan “ikhlas” dalam gerakan baik dimaksud.

Keikhlasan sebagaimana dimaksud jika diletakkan pada konteks kesimpulan saya tentang ego Antroposentrism rasanya akan mustahil untuk muncul. Konstruksi pariwisata pada karakter Antroposentrism akan muncul sebagai pertimbangan atas motif finansial semata sekalipun untuk menyejahterakan masyarakat. Pertimbangan yang dimaksud akan meletakkan manusia sebagai yang superior dan prioritas untuk memperoleh kemanfaatan yang utama dan terakhir dari sumber daya alam.

Seandainya pun seorang Antroposentrism berada di tengah praktek ekowisata, pola pikir yang terbangun berdasar konstruksi isme ini akan menjadi konservasi dilakukan untuk menjadikan alam menarik dan layak kunjung sebagai atraksi wisata, konservasi bukan karena sejatinya tujuan untuk menjaga alam sebagai bentuk etis peran manusia. Sulit untuk membayangkan ide ini lahir dari seorang Antroposentrism.

Bagaimanapun itu, kesimpulan ini tidak final. Mustahil untuk membangun konstruksi kesimpulan dari hanya satu isme, perlu isme lain sebagai pembanding. Isme yang relevan adalah Teosentrisme atau Ekosentrisme yang akan kita bedah lebih dulu berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *